Pencak Silat Nahdlatul Ulama' Pagar Nusa, Berkhidmad untuk Ulama' dan Bangsa
News Update :
Home » »

Penulis : PAGAR NUSA KOTA DEPOK on Sabtu, 06 Desember 2014 | 02.26


ALAM: HIKMAH PENCIPTAAN
By: Ahmad Masroni Wijaya (PN Kota Depok)

Berangkat dari mengamati berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan alam yang termasuk manusia di dalamnya maka kita tidak bisa memungkiri ada keterkaitan yang erat sekali antara manusia sebagai pelaku sejarah dan alam itu sendiri. Sejak dulu kala telah muncul banyak pertanyaan abadi, terlepas dari doktrin agama dan filsafat, semisal pertanyaan “ Siapakah kita?”, “Dari mana asal-usul kita?”, “Kenapa bisa muncul adanya alam jagad raya ini?”, “Apakah ada yang menciptakan alam ini atau tidak?”, dan seterusnya, yang semua pertanyaan-pertanyaan tersebut terlontar karena melihat semua keberadaan (existensi) yang tidak bisa kita tolak bahwa mereka semua adalah nyata.
Namun di sini kami tidak sedang berusaha menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan tetapi sekedar ingin mencoba untuk mempertemukan hikmah apa yang bisa diperoleh , manfaat apa yang bisa diambil dan bagaimana kita menyikapi semua wujud yang tercipta ini. Dalam usaha ini pun sebenarnya yang menjadi titik tekan dalam pemaparan nantinya adalah sebatas pada interaksi antara manusia dengan alam dalam konteks “ bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap semua wujud keberadaan yang nyata baik materi maupun non materi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa berbicara tentang penciptaan pasti tidak lepas dari konteks ‘siapa yang mencipta’ dan ‘apa yang tercipata atau apa yang telah diciptakan’. Merunut cara berpikir logis yang sederhana ini maka dapat dengan mudah dipastikan pula bahwa setiap ‘diri’ yang ada (meng-ada sebagai wujud mungkin existensi) akan merasa sadar sesadar-sadarnya bahwa dirinya benar-benar ada, nyata dan menjadi subyek bagi dirinya sendiri dan sekaligus juga sadar bahwa dirinya adalah merupakan hasil ciptaan atau tercipta dari sesuatu yang lain yang telah mengadakan atau menjadikannya. Hal ini tidak hanya berlaku hanya bagi identitas ‘diri’ sebagai manusia (sebagai wujud mungkin existensi) tetapi juga bagi identitas ‘diri-diri’ yang lain (sebagai wujud mungkin kebenderangan existensi) di luar wujud manusia seperti air, udara, gas, debu, api, batu, pasir, tanah, hewan, besi, kayu, pepohonan, bintang, matahari, dan lain sebagainya.
Mari kita bayangkan sejenak seandainya setiap ‘diri’ (wujud mungkin existensi) tidak mempunyai kesadaran penuh atas dirinya, pada dirinya dan terhadap dirinya, lantas apa yang akan terjadi pada keteraturan alam ini. Pasti akan kacau balau dan juga kita sebagai manusia yang lemah ini akan tersiksa sekali. Sebagai contoh: kita lagi asyik-asyiknya mandi tiba-tiba di tengah-tengah aktifitas mandi, air yang kita gunakan untuk mandi bosan jadi air dan berubah menjadi api dan kitapun terbakar. Atau ranjang yang kita pakai saat tidur tiba-tiba bosan jadi kasur dan berubah menjadi duri kawat dan tubuh kitapun berdarah-darah terluka akibat duri kawat yang lancip. Betapa sangat menyengsarakannya apabila hal itu betu-betul terjadi. Dengan senyum kita hanya bisa berucap alhamdulillahirobbil ’alamin, puji syukur kepadaNYA yang telah menjadikan semua wujud mungkin kebenderangan existensi ini sadar akan dirinya sendiri sebagai sesuatu tersebut.
Menarik untuk dibahas sedikit mengenai kenapa semua wujud-wujud mungkin kebenderangan existensi tersebut berkesadaran penuh atas dirinya. Jawaban singkatnya adalah karena ‘diri’ sebagai existensi (yang muncul atau yang nampak) tidak pernah absen dari dirinya sendiri sebagai realitas wujud existensi tersebut. Sebab kalau tidak demikian, maka yang terjadi adalah kemunculan dari kemunculan dan kemunculan dari kemunculan lagi dan begitu seterusnya. Sederhananya adalah bahwa sesuatu yang ada harus sama dengan realitasnya. Sebagai contoh : kemunculan kita sebagai manusia maka realitas yang harus nampak adalah sebagai wujud manusia, kemunculan debu sebagai debu maka realitas yang harus nampak pada kita adalah sebagai wujud debu, kemunculan cahaya sebagai cahaya maka realitas yang harus nampak pada kita adalah sebagai wujud cahaya dan begitu seterusnya.
Kembali pada pembahasan penciptaan, dapat diketahui bahwa ada hubungan niscaya yang tidak dapat terpisahkan antara pencipta sebagai asal atau sebab dan yang tercipta atau yang diciptakan sebagai akibat. Sebagai contoh adalah anak dengan ibu yang melahirkannya, panas dan cahaya dengan apinya, riak gelombang di tepi pantai dengan lautnya, buah dari pohonnya, debu dari tanahnya, mimpi dari tidurnya, meja dari kayunya, roti dari tepungnya dan dan lain-lain.
Tidak ada satupun wujud mungkin existensi yang ‘ada’ muncul dengan sendirinya tanpa didahului oleh sesuatu yang lain sebagai asal atau sebab bagi kemunculan dirinya. Logika sehat manusia menyimpulkan bahwa sesuatu yang ‘ada’ tidak mungkin berasal dari yang ‘tiada’, atau dengan kata lain sesuatu tidak bisa menjadi ‘ada’ atau exist dengan sendirinya. Hal ini menjdi pijakan kuat kenapa hubungan antara sesuatu (sebab) dengan sesuatu yang lain yang telah dikeluarkan (akibat) tidak dapat dipisahkan.
Manusia adalah wujud yang unik dan kompleks. Kemudian, apa fungsi dan peran manusia sebagai existensi yang lebih kompleks dibandingkan dengan existensi yang lain. Unik bukan saja dalam artian bahwa manusia tersusun atas dimensi jasad lahiriah, form dan matter (bentuk dan materi), tetapi lebih dari itu ia lebih kompleks dan lebih sempurna karena juga tersusun atas dimensi spiritual bathiniyah. Dan puncak kesmpurnaan manusia manakala ia disebut manusia adalah menggunakan dengan layak fitrah pada dirinya yang berupa akal (bathin atau Qolbu) sebagaimana mestinya.
Manusia dengan akalnya adalah existensi yang paling memungkinkan secara maksimal untuk memanfaatkan, mengatur, mengelola, menggali potensi dan memberdayakan keberadaan alam di luar dirinya. Setuju atau tidak bahwa akal manusia mampu menundukkan alam sesuai dengan hukum tata tertib yang berlaku pada alam itu sendiri (causalitas). Dengan akal manusia juga bisa memenuhi segala kebutuhan yang ia inginkan sesuai dengan tingkatan kebutuhan (needs) dan tehnologi yang memenuhi syarat tercapainya pemenuhan pelayanan alam terhadap dirinya. Pemerian tentang bagaimana cara manusia memanfaatkan alam untuk melayani dirinya sendiri tidak mungkin kami bahas detail dalam tulisan yang singkat dan sederhana ini. Akan tetapi hal yang pokok dan penting yang ingin kami sampaikan bahwa manusia adalah satu-satunya wujud existensi yang bisa memanfaatkan secara maksimal existensi lain diluar dirinya.
Hal ini mengindikasikan bahwa manusia adalah existensi yang mulia yang tercipta dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa wujud manusialah di alam materi atomistic ini yang mampu menyusun existensi di luar dirinya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri, sebagai contoh pasir bisa menjadi besi dan bahkan bisa terbang yaitu menjadi pesawat terbang, batu, pasir, kapur dll bisa menjadi rumah, apartemen, hotel dan gedung-gedung bertingkat. Bahkan kecanggihan manusia dalam menggunakan akalnya sudah pada tahapan mampu menduplikasi dirinya sendiri dari rekayasa genetika (cloning), menciptakan alat pemusnah massal yang sekali pencet maka separuh penduduk bumi akan musnah.
Lantas pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah manusia mempunyai kebebasan untuk mengeksploitasi alam ini? Jawabannya adalah ya dan tidak. Tidak, dalam artian bahwa apabila manusia menggunakan haknya yang sebebas-bebasnya tanpa mempedulikan lagi hak dan kebebasan manusia lain yang mempunyai kesaamaan hak dalam usaha untuk memanfaatakn alam ini serta dalam artian juga bahwa manusia tidak boleh semena-mena terahdap alam tanpa memikirkan lagi bagaimana kelanjutan kelestarian hidup dari alam yang telah mereka manfaatkan. Sebaliknya, Ya dalam artian bahwa manusia boleh memanfaatakan alam ini sesuai dan selaras dengan kebutuhannya yang positif dan tidak merusak dirinya sendiri serta dalam artian juga bahwa bagaimana manusia bisa mengelola alam ini dengan mempertimbangkan hukum kelayakan pada alam itu sendiri.
Banyak contoh manusia yang hanya mampu memanfaatkan alam ini tetapi tidak mampu mengelolanya dengan baik atau dengan kata lain tidak mampu menjaga hukum kelayakan akan keteraturan alam ini. Sehingga manakala manusia tidak segera menyadari akan prilakunya terhadap alam ini maka cepat atau lambat manusia itu sendiri yang akan menerima akibat dari perbuatannya. Untuk itulah alam ini perlu dijaga, dirawat, dilestarikan dan diperlakukan dengan layak sebagaimana adanya. Karena selain mereka mempunya kesadaran penuh akan dirinya sebagai alam, mereka pun bersaksi atas semua perbuatan kita yang kita lakukan terhadapnya.
Dari uraian tersebut sebenarnya yang ingin disampaikan adalah bagimana kita, sebagai manusia, bisa menyikapi alam ini sebagai mana adanya, sebagaimana mestinya dan sebagaimana seharusnya. Sebab alam sebagai keberadaan tidak bisa kita nafikan telah banyak mempengaruhi manusia dalam menentukan perjalanannya baik secara fisik maupun spiritual. Alam juga merupakan kauslitas bagi sebab keberadaan kita sehingga kita ada, exist.
Share this article :

Posting Komentar

 
Design Template by Syuro Bledek | Support by Aswaja | Powered by NU